Nothing to Display

HASNA HANIFAH. photography. imaginative. reblog. sooo many to do. loveyou xoxoxo xixixi

Untuk pemuda-pemudi Indonesia

Setelah komitmen dari Forum Osis Nusantara yg diwakilin Rodi dibaca, ada juga puisi yang ngena. Pas dibacain puisi ini pengen bgt punya juga, ternyata pas blogwalking ke blognya keke, http://mayorenlaif.blogspot.com/2011/12/pemuda-indonesia.html puisinya ada kepampang. Suka banget :)

Judulnya, TIGA TITIK

Titik pertama aku.
Aku nemplok pada dinding – dinding dingin
Rumah orang miskin pinggiran kali.
Bau, pengap, kotor, tak berkelas!
yang penting bagi mereka
hanyalah bisa makan setiap harinya.
Dan dua laki – laki berpeci hitam
Tetap tersenyum dalam bingkainya.
Menyebalkan!

Titik kedua itu aku.
Aku bergantung pada tembok – tembok kokoh
Perumahan mewah para koruptor.
Wangi, indah ,dengan kertas dinding motif bunga – bunga.
Tapi busuk!
Seperti bau neraka.
Dan dua laki – laki berpeci hitam
Tetap tersenyum dalam bingkainya
Menjengkelkan.


Titik ketiga ya aku.
Aku ada disetiap aliran darah pemuda frustasi.
Yang tiap harinya nonton kemiskinan
Tak bergeming.
Yang setiap harinya lihat penjahat jadi artis
Tak bergeming.
Terlalu sibuk dengan dunianya yang berantakan.
Kasihan sekali.
Dan dua laki – laki berpeci hitam
Tetap tersenyum dalam bingkainya
Mengesalkan!

Bosan,
Kesal,
Jijik,

Padahal…
Kata sejarah negeriku itu besar,
Kata geografi negeriku kaya
Kata matematika negeriku penuh dengan orang pintar.

Tapi kata kenyataan.
Negeriku kerdil,
Pemudanya tak lagi seperti soekarno dan kawan – kawan
Aku sih paham,
Ini kan tahun dua ribuan, bukan lagi empat lima.
Pemuda tak lagi siap angkat senjata untuk membela kehormatan bangsa
Karena jadi trendy lebih penting, bukan?



Ya…ya..ya..

Kenyataan juga bilang padaku,
Kalau negeriku banyak orang miskin.
Aku sih paham.
Pemudanya tak lagi kaya akan cinta pada tanah airnya.
Sekarang kan zaman global bung.
Bukan waktunya lagi nasionalis.

Hahahahhaha
Kenyataan bilang padaku,
Banyak orang yang dengan rela hati dibodohi di negeri ini.
Pemudanya tak pintar membaca situasi.
Mau saja dibodohi globalisasi

Aku hanya membayangkan suatu saat,
Aku jadi titik yang memandang besar nya negeri ini,
Ditangan para pemuda yang bermimpi besar.

Lalu Aku jadi titik yang menatap kaya nya bangsa ini.
Digenggaman pemuda yang kaya akan cintanya pada negeri.

Dan aku jadi titik,
Yang memandang kagum cerdasnya anak - anak pertiwi.

Kami ingin,
Menjadi tiga titik kejayaan bangsa.

Cool B-)